Kelima asal Italia

Sah, Chelsea akhirnya mengikat perjanjian dengan Antonio Conte. Conte menjadi pelatih The Blues, terhitung mulai musim 2016/2017, menggantikan Guus Hiddink.

Tak ada yang meragukan kualitas Conte, karena dia sudah membuktikannya saat mengarsiteki Juventus (2011–2014). Kepada Si Nyonya Tua, Conte mengukir sejarah mengkilap: juara Serie A tiga musim berturut-turut.

Conte lalu pergi dari Turin, melanjutkan petualangannya ke level yang lebih menantang, yakni menukangi Timnas Italia. Ketika Conte datang, Italia sedang berduka, bermuram durja. Gli Azzurri tak bisa berbuat banyak di Brasil, di pentas Piala Dunia 2014.

Bertabur pemain-pemain top, Italia tak bisa lolos dari fase penyisihan grup. Ironis, mengingat Italia menyandang empat kali juara Piala Dunia (1934, 1938, 1982, 2006).

Cesare  Prandelli, pelatih saat itu, mendapat tekanan dahsyat. Dia kemudian mengundurkan diri dan tampuk kekuasaan diserahkan kepada Conte. Conte diharapkan bisa mengembalikan kejayaan Italia, yang terdekat adalah Piala Eropa 2016.

Di tangan Conte,  performa Gli Azzurri perlahan membaik. Seluruh pemain merespon setiap instruksinya tanpa sungut-sungut. Italia juara Grup H, siap mengamuk di Piala Eropa 2016.

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Sukses bersama Juventus, Conte ingin mengulanginya bersama Chelsea. Conte adalah sosok yang optimistis, dia yakin dengan kemampuannya dan dia percaya kepada pemainnya. Soliditas itu penting dalam sebuah tim.

Premier League, kata banyak pengamat, lebih ‘sadis’ dari Serie A. Di Premier League, kerap terjadi hal-hal yang tak terduga. Musim ini saja misalnya, siapa nyana tim seperti Leicester City merajai klasemen sementara, mengungguli Arsenal, Manchester City, Manchester United, Liverpool, serta Chelsea yang merupakan tim-tim kuat?

Tottenham Hotspur, tim yang juga diragukan di awal musim, kini masih bercokol di posisi kedua.

Sejumlah pemain yang digadang-gadang akan bersinar, justru melempem. Pemilik klub juga tak segan memecat pelatih, kendati musim sebelumnya menuai prestasi. Liverpool mendepak Brendan Rodgers, Chelsea memakzulkan Jose Mourinho, dan isunya, MU berencana melengserkan Louis van Gaal.

Tugas berat menanti Conte. Trofi Premier League, itu harga mati bagi Chelsea. Dia harus memenangkannya. Misi selanjutnya, Liga Champions.

Chelsea memang punya historis kuat dengan pelatih asal Italia. Sebelum Conte, Gianluca Vialli, Claudio Ranieri, Carlo Ancelotti, dan Roberto Di Matteo.

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Vialli, selain menjadi pemain (1996–1999), menukangi The Blues selama dua tahun (1998–2000). Pencapaiannya cukup baik. Memenangkan FA Cup 1999/2000, League Cup 1997/1998, FA Charity Shield 2000, UEFA Cup Winner’ Cup 1997/1998, UEFA Super Cup 1998.

Ranieri, yang kini membesut Leicester City, memimpin Chelsea dari tahun 2000 sampai 2004. Tak mempersembahkan satu trofi pun, pencapaian terbaik runner up Premier League 2003/2004.

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Ancelotti, dikenang fans sebagai pelatih yang sukses di Stamford Bridge. Tiga trofi dia beri, dalam kurun waktu 2009–2011: Premier League 2009/2010, FA Cup 2009/2010, FA Community Shield 2009.

Di bawah rezim Di Matteo (1996–2002), The Blues memang gagal di Premier League, akan tetapi mereka sukses di FA Cup 2011/2012, juga di UEFA Liga Champions League 2011/2012.

Chelsea, kini, sudah digenggagam Conte. Berkaca dari empat pelatih sebelumnya, akan lebih bersinarkah Conte? Kita tunggu gebrakannya.

SUMBER : http://www.supersoccer.co.id/liga-inggris/conte-kepadamu-chelsea-berharap/

Advertisements