20160412051651_4779849.jpg
20 gol sudah Jangan terlalu ngotot, santai-santai saja, tapi serius. Kalau terlalu ngotot tenaga cepat habis, pikiran tak bisa fokus pada laga selanjutnya. Kira-kira, itulah yang dinginkan Claudio Ranieri terhadap mesin gol Leicester City, yang juga anak kesayangannya: Jamie Vardy.

Vardy, musim ini, luar biasa hebatnya. Dia seperti datang dari planet lain, benar-benar di luar dugaan, menyentak. Dua puluh gol sudah dia cetak, dan ada cerita unik di balik kebuasannya tersebut.

Piawai memanfaatkan peluang, Vardy ternyata tak punya ritual khusus. Tak seperti kebanyakan penyerang yang meluangkan waktu untuk berlatih finishing,  Vardy adalah pengecualian.

“Soal finishing, saya tak pernah mendapat kesempatan untuk berlatih,” kata Vardy, dilansir  Express.

Pernah, dalam beberapa kesempatan di akhir sesi latihan pagi hari, Vardy bersiap mempertajam  finishing, namun dia malah kena semprot  Ranieri. “Pelatih meminta saya untuk beristirahat, tak perlu  memforsir tenaga,” kata Vardy.

Akan tetapi, Vardy sesekali ‘membangkang’, karena dia menganggap finishing sangatlah penting baginya.

Sebagai pelatih, Ranieri punya kewenangan penuh. Perintahnya adalah fatwa yang wajib diikuti semua pemain, tanpa terkecuali, termasuk Vardy.  Ranieri sepertinya tahu, Vardy tak membutuhkan waktu tambahan untuk berlatih finishing. Terbukti memang, sampai pekan ke-33 Premier League 2015/2016, bomber berusia 29 tahun itu masih bisa menjebol gawang lawan.

Leicester, kemungkinan besar, juara musim ini. The Foxes akan menggoreskan sejarah spektakuler di kasta sepak bola tertinggi Inggris, dan  Vardy merupakan aktor penting di balik pencapaian tersebut.

The Foxes masih terkuat, penghuni puncak tertinggi klasemen sementara dengan torehan 72 poin. Pas di bawah mereka, di posisi kedua,  Tottenham Hotspur. Spurs butuh tujuh angka untuk menyamai pencapaian The Foxes. Sulit untuk mengejar, sebab Leicester sudah bulat tekadnya ingin menjadi yang terbaik.

Jelang berakhirnya kompetisi, mereka ingin melahap semua laga dengan angka sempurna. Terakhir, Minggu (10/4) malam WIB, giliran Sunderland yang mereka hajar dua gol tanpa balas. Dua gol kemenangan penting tersebut diborong oleh Vardy.

Kisah Leicester dan Vardy ibarat dongeng. Di dalam dongeng, semua hal bisa terjadi, sekalipun nalar sulit menerimanya. Membandingkan Leicester dengan Manchester United, Chelsea, Arsenal, Manchester City, juga Liverpool, pemakaian kata dongeng jelas sungguh tepat.

Sam Allardyce, pelatih Sunderland, mengatakan,”Ini akan menjadi sebuah dongeng yang menjadi kenyataan bagi Leicester”.

Musim depan, ada baiknya pelatih lain mengikuti gaya Raineri, yakni  tak usah terlalu ngotot menyuruh para striker untuk capek-capek berlatih finishing.

source : supersoccer

Advertisements